Partisipasi
Perempuan dalam Industri Rendah
“ANALISIS
KASUS”
Disusun
oleh :
Veronica
Julia Irawan
(1721200092)
Dosen
Pembimbing:
Charisma Ayu Pramuditha , B.TechMgt.MHRM
Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Multi Data Palembang (STIE.MDP)
PALEMBANG
2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersun hingga selesai. Dan harapan
saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah
ini agar menjadi lebih baik lagi
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman
saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu
saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Palembang,
januari 2018
Penyusun
(Veronica Julia Irawan)
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan
teknologi menunjang perkembangan sains.Sains terutama digunakan untuk aktivitas
discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam
serta untuk aktivitas invention (penemuan) berupa rumus-rumus. Sedangkan
teknologi merupakan aplikasi sains yang terutama dalam kegiatan invention,
berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam
hal ini, pengembangan sains tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan
masyarakat, sedangkan pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan
masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian
yang tak terpisahkan
Analisis kasus yang saya dapatkan adalah kurangnya
minat perempuan dalam keterlibatan industri berbasis sains, teknologi, rekayasa
dan matematika (STEM). Minat perempuan menuntut ilmu di bidang STEM relatif tinggi, tetapi minat bekerja di
sektor itu masih rendah.
Tim
Chief Operating Officer Sastra Asia,
menggambarkan industri STEM kompleks. Membuat perempuan memilih tak terlalu
terlibat, apalagi ada tekanan sosial terkait peran sebagai ibu rumah tangga.
CEO Female Daily Network mengatakan, orang tua berperan penting dalam mendukung
anak perempuan untuk terjun di jalur STEM sejak dini. 68% anak perempuan
menganggap orang tua menjadi penentu utama mereka berkarir di industri STEM
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka dapat ditarik beberapa permasalahan :
1. Rendahnya minat perempuan untuk bekerja di
bidang STEM dengan faktor pendukung sebagai peran ibu rumah tangga. Maka,
peluang bisnis pun tidak bisa digali dikarenakan perempuan yang lebih tau dalam
masalah kebutuhan.
2. Kurangnya ketertarikan perempuan pada
teknologi, karena sebagian besar
perempuan
menganggap bahwa teknologi merupakan hal yang rumit.
1.3
Rumusan Masalah
1. Apa
yang menyebabkan sebagian besar permpuan tidak memilih Industri STEM sebagai
pekerjaannya ?
2. Mengapa
teknologi Industri STEM dikatakan rumit ?
3. Bagaimana
cara Industri STEM terlihat mudah dikalangan perempuan?
BAB
2
ANALISIS
KASUS
2.1
Kronologis Kasus
Keterlibatan perempuan Indonesia dalam industri
berbasis STEM tidak mencerminkan ketimpangan jender secara global. Faktor
budaya seperti streotip terkait peran perempuan di sektor yang dikesankan
maskulin dan tekanan sosial menjadi tantangan.Hasil studi dilakukan Microsoft
Asia tahun 2017 menyebut, 3 perempuan dari 10 peneliti berbasis STEM di dunia.
Riset sama menyebutkan hanya 1 perempuan dari 5 pekerja profesional di industri
STEM, dikarenakan sebagian besar perempuan di Indonesia kurang mengetahui apa
itu STEM. Itulah yang membuat perempuan mengatakan sangat sulit untuk bekerja
di dunia berbasis industri STEM.
IT Director Coca-Cola Amatil Indonesia, juga
menyatakan kecenderungan itu juga ditemui di Indonesia. Minat perempuan
menuntut ilmu di bidang STEM relatif tinggti, tetapi minat bekerja di sektor
itu masih rendah. Hal itu dikarenakan adanya tekanan sosial terkait peran
sebagai ibu rumah tangga. Padahal, orang tua sangat berperan penting dalam
mendukung anak perempuan untuk terjun di jalur STEM sejak dini, anak perempuan
menganggap orang tua menjadi penentu utama mereka berkarir di industri STEM.
Sebenarnya, perempuan lah yang bisa menghasilkan
peluang bisnis yang baik. Mengapa? Karena perempuan lebih tau tentang kebutuhan
mereka di masa sekarang dan yang akan datang. STEM juga merupakan dunia
maskulin yang perlu dikenalkan kepada sosok perempuan sebagai panutan dan
inspirasi bagi perempuan lain di Indonesia.
2.2 Analisis Kasus
Dilihat dari kronologis di atas, dapat disimpulkan
bahwa permasalahannya
adalah sebagian besar perempuan di Indonesia kurang mengetahui apa itu Industri
STEM. Sebagian besar perempuan menganggap industri STEM merupakan pekerjaan
yang sulit. Padahal jika mereka melihat lebih dalam kelebihan dari industri
STEM, yaitu sebagai contoh:
· Pemanfaatan sains dan teknologi, secara tepat dapat lebih mempermudah proses
pemecahan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia.
· Sains dan teknologi dapat memberikan suatu inspirasi tentang perkembangan
yang ada di Indonesia.
Dari kelebihan
di atas, maka mereka akan lebih tertarik untuk terjun kedunia Industri STEM.
Akan tetapi permasalahannya adalah mereka tidak tahu sama sekali betapa penting
nya STEM, karena kurangnya perngetahuan.
Partisipasi
rendah ini harus perlu lebih
dikenalkan dengan sosok perempuan sebagai panutan dan inspirasi bagi perempuan
lain di Indonesia. Contoh lain dari kegiatan tersebut adalah mereka seharusnya
membuat sekolah bagi anak yang ingin mempelajari dunia sains dan teknologi,
juga memberikan wawasan luas dalam dunia kerja berbasis sains dan teknologi
bagi remaja agar mudah berkarir di dunia STEM.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
kesimpulan singkat terkait STEM. Pertama, adalah teknologi yang maskulin penting
dilakukan untuk menarik partisipasi perempuan dalam bidang STEM. Kedua,
dukungan dari orang tua sangat penting bagi anak untuk menempuh pendidikan di
bidang STEM. Ketiga, sosialisasi pentingnya perempuan masuk dalam bidang STEM
perlu melibatkan banyak pihak, pemerintah, swasta serta institusi pendidikan
dan perlu diperkenalkan sejak tingkat.

